Mengabarkan Komitmen Program Lewat Media Warga

Persoalan menuliskan apa yang telah kita lakukan sebagai fasilitator program pemberdayaan masyarakat, sebetulnya bukanlah persoalan sulit. Ibaratnya kita menuliskan pengalaman di dalam buku harian apa yang telah kita lalui. Baik program apa yang direncanakan dan bagaimana pelaksanaannya di lapangan, transparansi penggunaan dana program, tanggapan masyarakat, maupun kisah sukses penerima manfaat program.

Mungkin kita sudah terbiasa menuliskan hal ini pasca kita melakukan fasilitasi. Mungkin saja bentuknya lebih banyak berupa rekaman proses secara kronologis. Atau sangat besar kemungkinannya, kita sudah menuangkannya dalam bentuk feature yang tampil apik dan bernas. Orang tanpa sadar ketika mengonsumsi tulisan semacam ini, seperti membaca novel ”Ayat-Ayat Cinta” yang saat ini laris manis bak kacang goreng. Ada bumbu kisah di dalamnya, emosi dan petuah penuh makna, bahkan metodologi yang tidak pernah akan didapatkan di buku-buku ilmiah. Bisa jadi pula kita jarang atau tidak pernah sama sekali, menuliskan pengalaman dan cerita selama pelaksanaan program yang kita fasilitasi. Beragam penyebabnya. Bisa faktor kemalasan, kebiasaan (tradisi) buruk, merasa tidak ada bakat, perlu waktu luang untuk ”duduk manis”, atau belum mencoba untuk memulai saja!

Sudah banyak buku petunjuk praktis dan mudah cara menulis yang baik dan benar. Kita dengan mudah pula mendapatkannya di toko-toko buku terdekat. ”Ibarat naik sepeda”, ”Menulis itu gampang”, ”Tuliskan Apa yang Kamu lakukan dan Lakukan apa Yang Kamu Tulis” merupakan sebagian ungkapan untuk memotivasi orang berani menulis. Bisa jadi hal ini akan memandu banyak orang untuk memulai menulis. Akan tetapi, banyak pula yang tambah bingung setelah membaca buku tersebut. Mungkin saja dia tak segera menulis karena harus mengikuti aturan teknis cara menulis dalam buku itu, sementara kemampuan menulisnya belum lancar betul.

Pendek kata, menulis bisa menjadi sarana kita belajar dan membelajarkan orang lain. Untuk menulis diperlukan ide dan menuangkan ide tersebut secara runtut menggunakan pilihan kata (diksi) yang menarik, lugas, dan variatif. Penulis yakin, untuk memiliki kemampuan semacam ini sudah barang pasti orang tersebut harus rajin membaca. Pilihan kata seseorang akan monoton dan ”itu lagi itu lagi”, jika dia tidak kerap membaca karya orang lain.

Selain itu, menulis membantu memecahkan masalah. Karena menulis mendorong proses integrasi informasi, maka menulis bisa membantu memecahkan masalah-masalah yang rumit. Jika seseorang menulis dengan bebas tentang sebuah masalah yang rumit yang sedang ia hadapi, ia akan lebih mudah untuk mendapatkan pemecahannya. Ada beberapa alasan untuk hal ini. Salah satunya adalah bahwa menulis memaksa orang-orang memusatkan perhatian mereka lebih panjang pada satu topik tertentu daripada kalau mereka hanya memikirkannya. Karena menulis lebih lambat daripada berpikir, setiap gagasan harus dipikirkan dengan lebih terperinci. Menulis lebih bersifat “linier” daripada berpikir, yaitu bahwa menulis memaksa suatu gagasan untuk ditranskripkan sebelum gagasan lainnya mulai dipikirkan.

Singkatnya, menulis bisa menjadi sebuah kemampuan yang sangat berharga dalam mempelajari dan menghadapi dunia. Pada kesempatan yang tepat, menulis bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Meskipun bukan suatu obat yang serba manjur, penggunaan kegiatan menulis secara bijaksana bisa memperbaiki kualitas kehidupan bagi sebagian besar dari kita.

Ketika kita menulis, akan membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian tentang kegiatan mencatat, menulis catatan yang penuh pemikiran, atau, dalam kasus anak-anak kecil, coretan-coretan, membantu orang-orang untuk mendapatkan dan mengingat kembali gagasan-gagasan baru. Menulis bisa membantu memberikan suatu kerangka yang bisa dipakai untuk memahami perspektif baru dan unik dari orang lain. Bahkan menulis tentang hal tersebut akan membuat gagasan-gagasan semakin jelas dan mudah diingat.

Teknik Mengumpulkan Cerita
Salah satu cara untuk menuliskan program yang Anda jalankan adalah dengan Teknik Cerita Perubahan. Yaitu pengumpulan cerita dari para penerima manfaat program, pihak terkait (instansi pemerintahan dan toma-toga) dan staf lembaga (BKM). Melalui proses ini kita bisa meminta kepada para penerima manfaat program dan stakeholder lainnya untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan penting yang mereka alami sebagai hasil dari program. Merekalah yang turut berpartisipasi sekaligus mendapat masukan tentang penyebab perubahan tersebut.

Mengapa cerita?
Bercerita adalah alat yang sederhana, karena: Orang bisa menyampaikan cerita secara
alami. Cerita bisa lebih deskriptif dan komprehensif dan menawarkan penjelasan lengkap tentang perubahan yang dialami. Cerita mudah diingat orang. Cerita dapat membawa pesan yang sulit. Fasilitator sering kali gelisah ketika harus mengumpulkan dan menulis cerita karena merasa tidak percaya diri akan kemampuan mewawancarai dan menuliskan cerita.

Pengumpulan Cerita Melalui Wawancara
Sebagai fasilitator kita sering berinteraksi dengan kelompok masyarakat dan kelompok dampingan. Cerita tentang perubahan dapat dengan mudah dikumpulkan dengan beberapa cara. Pertama, fasilitator bisa mencatat tentang apa yang ia dengar secara langsung dari anggota kelompok dampingan, pemimpin masyarakat dan pihak-pihak setempat lainnya tentang perubahan-perubahan yang telah terjadi sebagai hasil dari program serta masalah-masalah yang berhubungan dengan program. Semua itu dapat dikumpulkan sebagai cerita “Pembelajaran yang diperoleh” (lessons learned).

Kedua, fasilitator dapat melakukan wawancara singkat dengan anggota kelompok dampingan, pemimpin dan anggota masyarakat dan pihak-pihak setempat lainnya yang berkepentingan. Wawancara singkat adalah cara terbaik untuk memperoleh cerita perubahan. Hasil wawancara dapat dicatat pada saat wawancara atau sesudahnya, atau juga bisa dengan merekam wawancara dengan tape-recorder.

Ketiga, fasilitator bisa meminta mereka untuk menulis cerita mereka sendiri dengan menggunakan formulir yang telah disediakan.

Teknik Wawancara
Wawancara selalu dimulai dengan menjelaskan alasan mengapa wawancara dilakukan. Anda perlu menjelaskan bahwa Anda mengumpulkan cerita untuk melihat perkembangan program. Anda juga perlu menjelaskan bahwa ada kemungkinan cerita akan ditulis dan kemudian ditempel di desa supaya bisa dibaca setiap orang. Ketika Anda diijinkan melakukan wawancara, mulailah dengan menanyakan data orang yang diwawancarai seperti nama, usia, jenis kelamin, lokasi dan pekerjaan. Setelah itu mulailah dengan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana sehingga suasana cair.

CATATAN:
Lihat kelompok dampingan program anda dan apa tujuan dari program tersebut. Yang terpenting adalah suara dari kelompok dampingan, baik laki-laki, perempuan, kaya, miskin, tua dan muda didengar dalam proses mengumpulkan cerita perubahan yang dialami mereka dan bisa mengumpulkan berbagai cerita dari kelompok-kelompok ini.

Sebagai contoh, fokus dari program anda adalah pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan perspektif keberpihakan kepada kaum perempuan dan orang miskin. Untuk itu cerita perlu menggambarkan keseimbangan gender dan seharusnya jumlah pencerita laki-laki dan perempuan seimbang. Pertanyaan-pertanyaan terbuka berikut ini menjadi dasar dari cerita perubahan:
“Menurut pendapat anda, perubahan apa yang paling penting yang terjadi dalam … (program/ proyek /kegiatan)… selama …(berapa) bulan terakhir ini” (Jelaskan perubahan tersebut dan jelaskan mengapa perubahan tersebut penting).

Pertanyaan lain yang lebih mendalam:
Dalam menggali informasi tentang perubahan, kita bisa belajar dari dasar-dasar jurnalisme. Sebagai contoh, reporter surat kabar umumnya berusaha untuk mengelola cerita dari seputar enam pertanyaan utama, yaitu:
– APA yang telah terjadi/ sedang terjadi?
– DI MANA terjadi?
– Kepada SIAPA terjadinya?
– KAPAN terjadi?
– KENAPA itu terjadi?
– BAGAIMANA kejadiannya?

Pertanyaan yang paling penting yang harus ditanyakan untuk menggali informasi tentang perubahan adalah ‘MENGAPA?’. Kita tidak hanya ingin mengetahui perubahan penting yang dialami, tetapi juga mendapatkan penjelasan mengapa perubahan tersebut dianggap penting oleh penerima manfaat program atau orang yang diwawancarai dan mengapa ini bisa terjadi.

Sebagai contoh proses wawancara:
P : Sejak bulan lalu, perubahan penting apa yang Anda rasakan sebagai hasil dari program ini? Kita kemudian perlu mengetahui kenapa perubahan ini dianggap penting.
P : Tolong jelaskan, mengapa Anda merasa hal tersebut merupakan perubahan yang penting bagi Anda!

Dari kedua pertanyaan tersebut Anda sudah memperoleh informasi perubahan penting yang dirasakan. Untuk memperoleh lebih banyak informasi perlu dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Sebagai contoh, seorang responden perempuan menjawab bahwa perubahan terpenting yang dia rasakan sejak adanya program adalah dia mengikuti pertemuan/rapat untuk pertamakalinya dan mampu memberikan pendapatnya sendiri. Kemudian untuk dapat memperoleh informasi lebih banyak mengenai perubahan tersebut serta alasan mengapa hal tersebut penting bagi dirinya, kita melanjutkan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus berhubungan dengan perubahan yang diceritakan pada awal wawancara.

Pertanyaan: Kapan ini terjadi?
Jawaban: sejak pertemuan program
P : Di mana tempat pertemuannya?
J : Di kantor desa
P : Pertemuannya tentang apa?
J : Pembahasan program
P : Siapa lagi yang ikut dalam pertemuan?
J : Hampir seluruh warga desa
P : Bagaimana perasaan Anda saat itu?
J : Sangat senang
P : Kenapa bisa berbicara pada pertemuan dianggap penting?
J : Saya merasa bangga.
P : Mengapa Anda merasa bangga?
J : Karena di desa ini perempuan biasanya sangat malu mengikuti pertemuan, tetapi sekarang kita tahu kita bisa mengikuti semua pertemuan tanpa rasa malu dan kita tahu bahwa kita juga dapat mengatakan sesuatu yang penting.
P :Tolong ceritakan kepada saya seperti apa sebelumnya? Mengapa sebelumnya Anda
tidak pernah mengikuti pertemuan?
J : Dulu saya……….

Dengan mendapatkan jawaban dari kedua pertanyaan itu saja seharusnya sudah bisa dibuat sebuah cerita perubahan yang mendasar. Akan tetapi pertanyaan-pertanyaan tambahan lainnya perlu juga ditanyakan pada saat wawancara untuk memperoleh lebih banyak informasi yang bisa bermanfaat dalam penulisan cerita.

Pengumpulan Cerita Secara Formal: FGD
Selain pendekatan informal melalui berbagai kegiatan program dan kunjungan lapangan, bisa juga dilakukan pendekatan yang lebih formal untuk mengumpulkan cerita, yaitu melalui kelompok diskusi yang terfokus (FGD-Focus Group Discussion).
Staf BKM membentuk satu atau beberapa kelompok FGD yang melibatkan masyarakat dampingan. Sebaiknya pada setiap FGD diikuti tidak lebih dari 10-15 peserta. Bisa kita pilih kelompok laki-laki atau kelompok perempuan atau kelompok campuran (jumlah peserta laki-laki dan perempuan yang seimbang). Dari segi lain kelompok juga bisa memperhatikan usia peserta – apakah kita berdiskusi dengan orang tua di desa atau khusus fokus pada pemuda-pemudi, dsb.

Cerita perubahan bisa dikumpulkan secara informal dengan kunjungan lapangan, kunjungan rumah-ke-rumah atau pada waktu ada pertemuan atau rapat terkait dengan program. Cerita perubahan juga bisa dikumpulkan lewat pendekatan FGD. Hal ini akan memungkinkan lembaga mengumpulkan cerita-cerita yang relevan terhadap kategori perubahan utama yang terkait dengan program.

Bila informasi telah dikumpulkan, maka tahap berikutnya adalah menuangkan informasi tersebut ke dalam tulisan. Di bawah ini dijelaskan teknik-teknik menulis cerita perubahan

Pengenalan
Setelah kita mengumpulkan informasi kita harus menentukan bagaimana kita mempresentasikannya. Sebuah cerita perubahan akan lebih menonjol jika tulisan mengenai perubahan yang terjadi dan alasan perubahannya jelas terlihat. Bentuk cerita perubahan mirip dengan cerita studi kasus, namun lebih sederhana. Yang paling penting adalah BUATLAH MENJADI MUDAH dan MENARIK.

Suatu cerita perubahan sebaiknya ditulis dalam bentuk cerita pendek, biasanya hanya 1-2 halaman dan terdiri dari beberapa paragraf saja. Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dipahami. Perubahan disampaikan apa adanya (tidak melebih-lebihkan atau sebaliknya). Ingat, bahwa dalam cerita perubahan kita ingin menceritakan cerita seseorang semudah dan sejelas mungkin.

Langkah pertama adalah memeriksa kelengkapan informasi yang dimiliki (gunakan checklist wawancara). Checklist di bawah ini membantu memastikan bahwa kita telah mendapatkan semua informasi yang relevan. Kemudian pikirkan cara-cara yang akan digunakan untuk mempresentasikan informasi tersebut.

CHECKLIST WAWANCARA
Apakah Anda mempunyai perubahan mendasar untuk dilaporkan?
Apakah Anda punya nama peserta Cerita Perubahan?
Apakah sudah dicek ejaannya? (Anda boleh juga memakai aliasnya)
Apakah Anda tahu usia peserta?
Apakah Anda tahu di mana peserta tinggal?
- Desa
- Kecamatan
- Kabupaten
- Propinsi
Apakah Anda punya informasi tentang latar belakang peserta?
- Status (menikah/belum menikah)
- Sudah berkeluarga/berapa anaknya?
- Peran di desa?
Apakah Anda tahu pekerjaan peserta?

Dapatkah Anda menjawab enam pertanyaan utama tentang Cerita Perubahan?
- Perubahan mendasarnya apa?
- Di mana perubahan terjadi?
- Kapan perubahan terjadi?
- Siapa lagi yang dipengaruhi dalam perubahan ini?
- Kenapa perubahan ini penting?
- Bagaimana perubahan ini telah meningkatkan kehidupan seseorang?
Apakah informasinya cukup membantu untuk menyusun sebuah cerita perubahan yang mendasar?

Memulai Cerita Perubahan
Setelah kita yakin bahwa informasi sudah lengkap, maka kita bisa mulai menuliskan cerita perubahan tersebut. Kalimat pertama sangat penting, karena kalimat pertama memberitahukan apakah ini adalah cerita positif atau negatif. Ini adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan setiap fokus yang menarik sehingga pembaca tertarik membacanya.

Gaya Penulisan
Untuk mendokumentasikan Cerita Perubahan ada 2 gaya penulisan yang efektif:
1) Gaya Penulisan Orang Pertama/Narasi
2) Gaya Penulisan Orang Kedua/ Reportase

Gaya Penulisan Orang Pertama/ Narasi
Gaya narasi berarti bahwa cerita disampaikan langsung oleh yang bersangkutan. Gaya cerita seperti ini membangun karakter yang lebih kuat pada Cerita Perubahan. Kita menjadi lebih yakin bahwa perubahan mendasar adalah sesuatu yang nyata karena diceritakan langsung oleh yang bersangkutan; namun diperlukan keahlian untuk menghasilkan sebuah narasi yang efektif. Sebaiknya wawancara direkam ke dalam kaset dan diketik, lalu teks hasil ketikan kemudian diedit.

Ketika mengedit teks narasi, jangan takut untuk mengganti teks bila diperlukan, tetapi jangan mengubah arti atau cerita menurut Anda sendiri. Resiko dari gaya penulisan orang pertama / narasi ini yaitu menghabiskan banyak waktu.

KERANGKA CERITA PERUBAHAN YANG MENDASAR
Bagian 1: Menjelaskan langsung suatu perubahan penting yang dialami oleh responden. Ini merupakan fokus dari cerita.
Bagian 2: Informasi latar belakang dari responden termasuk:
- Data pribadi
- Hubungan antara responden dan program
- Judul program/nama BKM dll.
Bagian 3: Informasi pokok tentang program termasuk:
- Tujuan
- Bidang program
- Kegiatan
Bagian 4: Menjelaskan perubahan mendasar yang dialami oleh responden (perubahan ini sudah disebut dalam paragraf 1).
- Bandingkan situasi sekarang dengan situasi masa yang lalu.
- Mengapa perubahan mendasar ini dianggap sebagai sesuatu yang penting untuk responden?
Bagian 5: Tambahan informasi seperti:
- Bukti lain atas perubahan mendasar.
- Perubahan lainnya yang dialami.
- Harapan responden untuk masa depan.

Di bawah ini adalah cerita gaya orang pertama atau narasi berdasarkan contoh kerangka karangan. Melalui gaya penulisan ini cerita menjadi lebih pribadi sifatnya karena para pembaca membaca kata-kata langsung dari subyek cerita perubahan.

INGAT:
Kalau anda menggunakan gaya penulisan narasi, kita perlu membacakannya kembali
kepada subyek cerita, supaya bisa diverifikasi kebenaran informasi dalam cerita.

IBU LISA BERANI BICARA

Nama saya Ibu Lisa. Saya sudah mengalami beberapa perubahan yang baik sebagai hasil dari program BKM Keputran Mandiri. Tetapi bagi saya perubahan yang paling mendasar adalah keberanian saya untuk bicara secara bebas di desa. (Bagian 1)

Saya seorang Ibu rumah tangga dari Kelurahan Keputran, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Saya berumur 38 tahun dan sudah mempunyai tiga anak (1 anak perempuan dan 2 anak laki-laki). Pada bulan Mei tahun 2008 saya mengikuti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) yang difasilitasi oleh BKM Keputan Mandiri. (Bagian 2)

Program ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian keluarga miskin di desa saya melalui beberapa inisiatif termasuk:
• Bantuan alat pertanian
• Peternakan kambing
• Pelatihan metode pertanian organik
• Pelatihan tenun dan motif tradisional
Program ini juga terfokus pada kaum perempuan dan semua perempuan dari kelompok sasaran di Kelurahan Keputran harus terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program. (Bagian 3)

Dari awal program saya disuruh ikut rapat desa yang diadakan untuk perencanaan program PNPM. Tetapi pertama kali saya harus duduk bersama dengan ibu-ibu dan laki-laki lain di dalam rapat saya betul-betul takut sekali. Saya belum pernah ikut rapat. Itulah selalu urusan laki-laki dan ibu di sini tidak boleh berpendapat. Tugas perempuan di sini di dapur saja masak nasi untuk tamu. Jadi saya takut sekali pertama kali disuruh berkata dan tidak bisa bilang apa saja! Namun sedikit demi sedikit saya merasa lebih berani bicara sehingga saya menjadi Ketua Kelompok Tenun Tradisional yang dibentuk oleh program PNPM. Sekarang pendapat saya banyak didengarkan. Keberanian saya untuk berbicara merupakan lebih dari perubahan pada saya sendiri – namun itu juga merupakan perubahan mendasar untuk budaya di desa ini. Dulu dengan budaya di sini ibu-ibu selalu harus diam saja. Yang bikin keputusan itu laki-laki saja. Tetapi sekarang budaya di sini sudah berubah. Ibupun bisa ikut dalam proses keputusan program dan pendapat dari ibu-ibu dinilai sama dengan pendapat bapak. Saya kira ini adalah perubahan yang penting sekali untuk masa depan. (Bagian 4)

Saya sudah menyuruh banyak ibu untuk juga ikut rapat sehingga kami dapat pelatihan khusus sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kami, yaitu pelatihan tenun dan motif tradisional. Selain itu saya juga dapat pelatihan tentang pertanian organik besama dengan suami saya. Perubahan lain yang saya alami termasuk:
• Ketrampilan tenun baru.
• Ketrampilan pertanian organik yang bisa menambah hasil kebun saya.
Saya sudah bisa membantu ekonomi keluarga saya. Dengan hasil dari penjualan tenun saya di pasar, ekonomi keluarga saya sudah meningkat sampai 30 persen.Apalagi semua anak saya bisa bersekolah dan harapan saya adalah mereka bisa terus bersekolah sampai kuliah. Tetapi juga saya punya harapan khusus untuk anak perempuanku. Harapan itu adalah bahwa perempuan di desa ini semakin lama semakin maju supaya anak perempuan saya punya lebih banyak kesempatan daripada saya sendiri.

INGAT:
Biasanya suatu cerita perubahan bisa ditulis dalam 5 atau 6 paragraf saja. Jumlah paragraf ini cukup untuk menyampaikan informasi pokok tentang perubahan mendasar yang dialami.

Gaya Penulisan Orang Kedua/ Reportase
Dalam gaya ini, penulis memiliki kebebasan lebih untuk menambah informasi ke dalam Cerita Perubahan dengan tujuan untuk menghasilkan cerita yang menarik. Penulis juga dapat menulis hasil wawancara dalam bentuk yang lebih singkat sehingga cerita perubahan yang dihasilkan pendek dan sederhana.

Gaya penulisan ini lebih cepat, lebih bisa diadaptasi dan bisa digunakan dalam semua bentuk dokumentasi. Dengan menggunakan gaya ini kita bisa melaporkan semua perubahan melalui wawancara dengan penerima proyek, atau kita bisa menghasilkan Cerita Perubahan berdasarkan pada apa yang kita lihat di lapangan.

Untuk membuat teks tidak kaku, kita bisa menggunakan kutipan dari subyek tentang isu-isu tertentu. Ini juga akan membantu memberikan sentuhan ‘personal’ pada Cerita Perubahan. Gaya penulisan bisa dalam format sederhana sehingga sebanyak mungkin orang bisa memahami cerita perubahan itu. Jika mau menulis cerita yang lebih panjang, boleh saja, tetapi ingatlah:
Tetapkan fokus dari cerita perubahan. Lebih baik kalau semua informasi terkait dengan perubahan mendasar yang dialami. Cerita yang terlalu panjang bisa membosankan pembaca sehingga tidak semua cerita dibaca.

Di bawah adalah contoh cerita perubahan yang sama dengan sebelumnya tetapi menggunakan gaya penulisan reportase yang pendek.

IBU LISA BERANI BICARA

Sejak adanya program dari BKM Keputran Mandiri di desanya, Ibu Lisa mengalami beberapa perubahan yang positif dalam kehidupannya. Perubahan yang dianggapnya sebagai perubahan paling penting adalah munculnya keberanian di dalam dirinya untuk dapat berbicara secara bebas untuk mengungkapkan pendapatnya di depan masyarakat di desanya. (Bagian 1)

Ibu Lisa adalah seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di Kelurahan Keputran, Kecamatan Sawahan Kota Surabaya. Di usianya yang ke 38 tahun ini ia sudah mempunyai satu anak perempuan dan dua anak laki-laki. Sejak Bulan Mei tahun 2008 Ibu Lisa mengikuti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) yang difasilitasi oleh BKM Keputran Mandiri. (Bagian 2)

Tujuan dari program ini adalah meningkatkan perekonomian keluarga miskin melalui beberapa inisiatif, antara lain bantuan alat pertanian, peternakan kambing, pelatihan metode pertanian organik, pelatihan tenun dan motif tradisional. Program ini juga terfokus pada kaum perempuan sehingga semua perempuan dari kelompok sasaran harus terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program.(Bagian 3)

Sejak awal program Ibu Lisa diminta untuk selalu mengikuti pertemuan desa yang diadakan untuk pembuatan rencana program PNPM. Pada saat pertama kali menghadiri rapat ia sangat ketakutan karena dia harus duduk bersama dengan ibu-ibu dan laki-laki lain di dalam rapat. “Saya belum pernah ikut rapat. Itulah selalu urusan laki-laki dan ibu tidak boleh berpendapat. Tugas perempuan di dapur saja masak nasi untuk tamu. Jadi saya takut sekali pertama kali disuruh berkata dan tidak bisa bilang apa saja!”, kata Ibu Lisa. Namun sedikit demi sedikit Ibu Lisa merasa lebih berani bicara sehingga pada akhirnya dia dipilih menjadi Ketua Kelompok Tenun Tradisional yang dibentuk oleh program P3KM. Sekarang ia sudah berani berbicara di depan umum dan pendapat Ibu Lisa sudah banyak didengarkan. Menurut Ibu Lisa keberaniannya untuk berbicara bukan saja merupakan perubahan pada dirinya sendiri, melainkan juga perubahan mendasar untuk budaya di desanya. “Dulu dengan budaya di sini ibu-ibu selalu harus diam saja. Yang bikin keputusan itu laki-laki saja”, tutur Bu Lisa. “Tetapi sekarang budaya di sini sudah berubah. Ibu-ibu pun bisa ikut dalam proses keputusan program dan pendapat dari ibu-ibu dinilai sama dengan pendapat bapak-bapak”. (Bagian 4)

Tidak hanya puas dengan perubahan yang ia alami, Ibu Lisa berusaha mengajak ibu-ibu yang lain untuk juga ikut rapat sehingga mereka dapat memperoleh pelatihan khusus sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka, seperti pelatihan tenun dan motif tradisional. Selain aktif dalam pertemuan Ibu Lisa juga mengikuti pelatihan pertanian organik bersama dengan suaminya. Dari pelatihan tersebut ia mengalami perubahan lain, yaitu ketrampilan tenun baru dan ketrampilan pertanian organik yang bisa meningkatkan hasil dari kebunnya. Ibu Lisa mengatakan sejak ia mempunyai ketrampilan baru ia merasa lebih mampu untuk membantu ekonomi keluarganya. Dengan hasil dari jualan tenunnya ekonomi keluarga Bu Lisa sudah meningkat sampai 30 persen per bulan. Kini ia sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya dan berharap anak-anaknya akan dapat terus bersekolah sampai lulus kuliah. Khusus untuk anak perempuannya ia mempunyai harapan tersendiri. “Harapan saya adalah perempuan di desa ini semakin lama semakin maju supaya anak perempuan saya punya lebih banyak kesempatan daripada saya sendiri”. (Bagian 5).

Satu Tanggapan

  1. Hai, ini adalah komentar,
    Untuk menghapus komentar, silakan login dan lihat komentar pada postingan, disitu Anda dapat mengedit atau menghapusnya.

Tinggalkan Balasan